Login

Username
Password
(Huruf bsr & kcl berpengaruh)

Register
Register pakai HP
Home
Kontak Kami
Cara Pembayaran
Pertemuan Anggota / Ta'aruf
Beritahu Teman
FAQ
SMS: 08186-syifa
Kegiatan Sosial
Yatim-Piatu
Download
Free Download File
Anggota sedang Online
Anggota telah menikah (Sukses)
Statistik Situs
Visitors :220581 Users
Month : 2344 Users
Today : 96 Users
Online : 4 Users

 


Cinta yang selalu membara

Rabu, 10 Februari 10 - oleh : admin

" Rumah tangga idaman muslim, selain memberikan ketenteraman atau sakinah, juga
penuh dengan rasa cinta alias mawaddah. Perasaan cinta adalah fitrah antara
laki-laki dan perempuan. Allah mengistilahkan sebagai sebuah ‘kecenderungan’
untuk saling tertarik, dan kemudian tenteram karenanya.”


Cinta memang cenderung bermakna fisikal. Karena itu, Rasulullah mewanti-wanti
agar suami atau istri selalu menjaga penampilannya di hadapan pasangannya.
Bukan hanya ketika ada orang lain. Tetapi ketika di rumah.

  Rasulullah mengingatkan begini:
 

Cucilah bajumu, cukurlah rambutmu, bersihkan mulutmu, berhias dan bersucilah.
Bani Israil tidak pernah melakukan seperti itu, sehingga istri mereka berzina
.

  Jadi menjaga penampilan sangatlah perlu dan dianjurkan di dalam Islam. Karena
itu, agama Islam sangat memperhatikan soal kebersihan, kerapian dan kesucian.
Bahkan setiap hari 5 kali kita diperintahkan untuk membersihkan dan mensucikan
diri, lewat aktivitas wudhu dan shalat wajib.

  Penampilan yang buruk dan jorok bakal mendorong terjadinya masalah dengan
pasangan kita. Bahkan bisa mendorong munculnya ketidakpuasan dan terjadinya
perselingkuhan. Baik pada istri maupun suami. Mereka merasa orang lain lebih
menarik dari pada pasangannya.

  Nah, Islam sangat menganjurkan agar kita memupuk rasa cinta itu. Rasa
kesenangan dan kebahagiaan yang dipengaruhi oleh faktor fisik. Termasuk hal-hal
yang berkait dengan penampilan, kebersihan, kelembutan ucapan, dan kepuasan
hubungan biologis.

  Salah satu tujuan perkawinan memang adalah menyalurkan hasrat cinta. Sebuah
hal yang menjadi fitrah manusia. Sehingga Rasulullah bersabda:
  Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu kawin, maka
kawinlah, karena kawin dapat menjaga mata dan kemaluanmu (dari berbuat zina.)


  Ini sangat manusiawi. Apalagi pada anak-anak muda yang sedang dalam dorongan
libido sangat tinggi. Perkawinan digunakan untuk menyalurkan hasrat secara
lebih mulia dan terhormat. Bisa menghindarkan dari perbuatan zina yang merusak
budaya dan kesehatan masyarakat.

  Maka, rumah tangga Islam harus dibina supaya tetap ‘membara dalam cinta’.
Harus menjadi ‘surga dunia’ dalam hubungan cinta. Jangan sampai ada yang lebih
menarik daripada suami atau istri kita.

  Karena itu, Rasulullah menasehati kita agar benar-benar menjaga kehamonisan.
Dimulai dari bertutur kata yang halus. Bersikap lembut. Bahkan selalu
menampakkan pandangan mesra kepada istri atau suami.

  Sebab, tutur kata dan sikap yang kasar akan menyakitkan hati. Dan ini akan
sangat berpengaruh pada hubungan selanjutnya yang lebih intim. Bisa menyebabkan
tidak 'mood' pada saat bermesraan. Dan muncul ganjalan hati.

  Rasulullah selain berpenampilan bersih dan harum, selalu berkata lemah lembut
kepada istrinya. Bahkan suka menggunakan panggilan-panggilan kesayangan kepada
istrinya. Misalnya, beliau menyebut Siti Aisyah dengan Humairah, ‘Yang Bersemu
Merah’.

  Itu adalah bumbu kemesraan, yang akan terus menjadikan cinta tetap membara
dalam rumah tangga kita. Memunculkan kemesraan dan kerinduan sepanjang waktu.
Sehingga beliau bersabda begini untuk umatnya:
  Hanya lelaki yang mulia yang berlaku lemah lembut kepada istrinya. Sebaliknya
hanya lelaki yang hina yang suka bersikap kasar kepada istrinya.

  Bahkan dalam hal bermesraan dengan istri beliau memberi nasehat begini:
  Apabila salah seorang di antaramu menggauli istrinya; maka hendaklah ia
melakukan dengan tulus. Dan jika ia telah mencapai hajatnya (orgasme) sebelum
istrinya mencapai (orgasme) hendaklah dia bersabar sampai istrinya
menyelesaikan pula.

  Begitulah Rasulullah mengajarkan sikap penuh cinta dan saling memperhatikan
pasangannya. Bukan hanya kepentingan dirinya sendiri. Insya, Allah dengan cara
ini, kita bisa menjaga rumah tangga kita sebagai surga dunia. Rumah tangga yang
mawaddah, penuh cinta membara.
  Selain itu, jangan ragu-ragu untuk selalu memberikan yang terbaik buat suami
atau istri. Berikanlah apa yang paling disukainya. Karena, itu semua akan
menenteramkan dan membahagiakannya.

  Jangan canggung untuk memberikan cinta terbaik yang kita miliki, kepadanya.
Ia adalah milik kita. Dan kita adalah miliknya. Sehingga Allah berfirman kepada
kita di dalam Al-Qur’an untuk menghilangkan keraguan itu.

  QS. Al Baqarah (2): 223
  "Isteri-isterimu adalah sawah ladang bagimu, maka datangilah sawah ladangmu
itu sesukamu. Dan lakukanlah (yang terbaik) untuk dirimu, dan bertakwalah
kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah
kabar gembira orang-orang yang beriman."


  Namun demikian, Rasulullah memberikan tips praktis kepada kita dalam
berhubungan suami istri. Intinya janganlah kita semuanya hari ini. Mesti ada
sedikit-sedikit yang dirahasiakan. Untuk diberikan di kesempatan yang berbeda.

  Sesuatu yang sudah ‘blak-blakan’ diberikan semua, menjadi kurang 'curious'
dan menggairahkan. Cepat bosan. Dan tidak ada tantangannya lagi. Sehingga, Siti
Aisyah pernah berkata, bahwa dia dan Rasulullah selalu dalam keadaan yang
tertutupi sebagian ketika bercinta dengannya. Lebih menarik. Lebih artistik.
Dan menggairahkan.

  Namun demikian semua itu berpulang kepada masing-masing individu. Ada yang
senang blak-blakan. Ada juga yang senang sedikit tersembunyi. Toh semuanya
sudah menjadi milik kita. Mau diapakan saja silakan...

  Begitulah rumah tangga Islam. Harus dikelola secara baik dan penuh cinta.
Bukan hanya untuk sekarang, melainkan untuk selama-lamanya, sampai maut
memisahkan keduanya.
  Yang juga perlu dipahami, barangkali adalah kecenderungan kesenangan antara
laki-laki dan perempuan. Dalam bercinta, laki-laki dan perempuan memiliki
ukuran kepuasan yang sedikit berbeda.

  Laki-laki lebih mementingkan tercapainya orgasme, sedangkan perempuan lebih
kepada perasaan disayangi dan dicintai. Karena itu, seorang perempuan bisa
merasakan kepuasan, meski tidak mencapai orgasme seperti lelaki. Walaupun, jika
ia mencapai orgasme akan lebih komplet kebahagiaannya.

  Perasaan diperhatikan dan disayangi suami, dan sekaligus bisa melayani atau
membahagiakan suami, seringkali lebih dominan dalam mendorong kepuasan seorang
istri. Akan tetapi, pada seorang lelaki, orgasme merupakan kepuasan puncaknya.
Jika tidak tercapai bisa ‘sakit kepala’

  Karena itu Rasulullah mengingatkan kepada para istri untuk memahami hal ini.
Jangan sampai ketika dibutuhkan oleh suami, tidak mau melayani. Meskipun dengan
alasan sedang berpuasa atau ibadah.

  Rasulullah bersabda demikian:
  'Satu hari pun seorang istri tidak boleh berpuasa tanpa ijin dari suaminya,
jika suaminya sedang berada di rumah. Kecuali pada bulan Ramadan."

  [HR. Ahmad Bukhari & Muslim]

  Demikian pentingnya kepuasan seorang suami atas istrinya, sehingga
mengalahkan puasa sunnah. Dan Allah mencurahkan ridhaNya atas seorang istri
yang taat kepada suami demi kebahagiaan rumah tangganya. Keluarga yang
mawaddah, yang penuh cinta membara...

"oleh : firliana putri

kirim ke teman | versi cetak

Berita Artikel Lainnya

Istri Shalihah, Keutamaan dan Sifat-Sifatnya
Ikhlas dalam berumah tangga
Wanita Seperti Apa yang Kau Cari ??
Aku Takut Menikah.. [Karena Belum Cocok]
Menjadi Muslimah Ideal